Gemercik’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

IDEALITAS FORMAT KEPEMIMPINAN NASIONAL MASA DEPAN Maret 28, 2008

Filed under: Tak Berkategori — gemercik @ 7:21 am

riyanthea_devi@yahoo.com

Hubungan social yang dilakukan oleh setiap anggota masyarakat merupakan sumber terjadinya konflik didalam masyarakat. Padahal masyarakat terdiri dari sejumlah besar hubungan social. Masyarakat tidak akan ada bila tidak ada hubungan social. Didalam menghadapi tantangan untuk memelihara serta mengembangkan kehidupannya, maka manusia senantiasa melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. Pada mulanya manusia menyatakan pembagian kerja yang mencakup diferensiasi kegiatan-kegiatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam kondisi-kondisi social tertentu. Manusia cenderung untuk senantiasa mengembangkan aspek-aspek kehidupannya sampai mencapai suatu derajat keharusan atau kompleksitas tertentu. Sehubungan dengan sifat-sifat pribadi sebagai sebab terjadinya konflik.
Nasib setiap pemimpin dalam hal tertentu tergantung dari apa yang dikatakan atau digunjingkan orang-orang lain mengenai diri pemimpin itu. Dalam posisi apa saja bila ia berdiri sebagai kepala dari sesuatu maka pendapat umum (public opinion) dapat membangun atau menghancurkannya.
Kehidupan seorang pemimpin selalu “gerak” dan tidak “tenang”. Memang tidak salah kalau kita memilih kehidupan yang lebih tenang, tetapi kiranya akan merupakan ancaman yang serius terhadap “kebahagiaan hidup” seseorang, bila orang itu berada dalam dua keinginan, kadang-kadang menghendaki posisi kepemimpinan, tetapi dalam waktu bersamaan menginginkan suatu kehidupan yang tenang.
Sebagai akidah dan syari’ah, Islam berdasar pada wahyu yang diturunkan Allah SWT dalam Kitab-Nya dan berdasarkan penjelasan Rasulullah saw atau sunnah beliau. Dengan demikian, benar atau salahnya akidah Imamah(pemimpin) itu harus berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

Kepemimpinan adalah kemampuan memperoleh consensus dan keikatan pada sasaran bersama melampaui syarat-syarat organisasi, yang dicapai dengan pengalama, sumbangan, dan kepuasan dipihak kelompok kerja. Menurut Syekh Abu Zahrah, Imamah (pemimpin) itu juga disebut Khilafah. Sebab orang yang menjadi khalifah adalah penguasa tertinggi bagi umat Islam yang menggantikan Nabi saw. Khalifah itu juga disebut imam sebab para khalifah adalah pemimpin (imam) yang yang wajib ditaati. “Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka ruku’(kepada Allah)” (al-Maa’idah:55). Seseorang yang akan menangani urusan umat Islam harus memiliki kemampuan khusus sehingga ia mampu mewujudkan keamanan dan kesejahteraan umat Islam secara sempurna. Dengan memperhatikan strategi-strategi dan pola-pola kepemimpinan, yang harus coba dibangun untuk mewujudkan segala sesuatu yang akan menjaga kemaslahatan umat Islam, seperti :
1. Strategi kerjasama
Strategi ini sangatlah penting ,karena antara yang memimpin dan yang dipimpin haruslah ada suatu kerjasama yang baik agar dapat mencapai satu tujuan. Dan dikarenakan berurusan dengan dengan orang-orang yang layak yang pada dasarnya mempunyai kehendak yang berbeda-beda, walaupun mungkin mereka mempunyai pendirian yang sangat kuat untuk mempertahankan kehendaknya tersebut. Oleh karena itu sangatlah diperlukan strategi kerjasama ini dengan melakukan hubungan dan membangun komunikasi secara intens, baik dengan cara berunding,saling mengisi kekurangan dan saling memajukan orang lain.
2. Strategi Penyesuaian
Walaupun taktik kerjasama lebih baik, tetapi sering keadaan menghendaki kita menyesuaikan pandangan kita dengan pandangan orang lain. Tetapi penyesuaian bukanlah kompromi.
3. Strategi Tegas
Pertahanan yang paling baik sering sesuatu serangan yang efektif untuk mempertahankan harga diri anda untuk mendapat rasa hormat dari pihak lain, dan untuk melindungi hubungan,kadang-kadang perlu untuk bertindak tegas.
4. Strategi Bertahan
Taktik untuk mengatasi suasana yang buruk. Kalau orang marah, kadang-kadang semuanya salah langkah, dan kegagalan merupakan bagian dari kehidupan. Jika hal-hal yang tidak menyenangkan itu terjadi maka harus mempunyai berbagai taktik untuk meredakan keadaan, melindungi diri sendiri, dan memelihara hubungan.
Ketika melihat pola kepemimpinan, maka ada yang produktif dan tidak produktif.
• Pola kepemimpinan yang produktif
Walaupun pemimpin yang mengarahkan sering dikacaukan dengan pengeksploatir, kebaikannya biasanya lebih banyak dari pada kekurangannya. Dalam dunia yang ideal, pola kerjasama adalah yang paling baik. Komunikasi mengalir dengan bebas dan asli. Partisipasi dalam pengambilan keputusan merupakan norma. Ancangan secara kolega, bisa berjalan dengan baik bila suatu kelompok terdiri dari para ahli yang sangat cakap, yang sama-sama dibutuhkan oleh pemimpin adalah sebagai katalisator, integrator, pembentuk kelompok, juru penengah. Keahlian, kecakapan yang diakui, dan kebanggaan dari masing-masing anggota kelompok mengurusi masalah motivasi dan prestasi.
• Pola kepemimpinan tidak produktif
Pemimpin yang tidak demokratis, mereka membuang-buang sumber daya pribadi tanpa berusaha agar kerja dilaksanakan secara effektif. Mau menolong memang kadang-kadang perlu, tetapi bila menjadi pola yang umum, bisa merosot menjadi kompromi, keadaan yang layak, dan non intervensi. Bapakisme pada dasarnya merupakan manipulasi emosional, yang membiarkan orang bergantung dan diikat dengan kesetiaan pribadi, kadang-kadang merugikan organisasi. Akhirnya, ancangan birokratis merusak diri karena menganggap orang robot belaka, bukan manusia yang berfikir dan mempunyai perasaan.
Melihat keadaan dewasa ini, dapat dikatakan, bahwa perkembangan komunikasi, ilmu pengetahuan, dan tekhnologi yang pesat,menyebabkan adanya satu masyarakat dunia. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa ada satu system social yang mencakup seluruh dunia. Disinilah sangat pentingnya peranan seorang pemimpin, karena tidaklah mungkin masyarakat yang begitu heterogen dapat hidup bersama tanpa ada pemimpin yang menjadi uswatun hasanah dan dapat ditaati. Sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya “ Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah(Al Qur’an)dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian . yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Q.S. An Nisa: 59)
Sebagai umat Islam, yang bahwasannya telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT dan meyakini Kitab Nya (Al-Qur’an) sebagai pedoman hidup yang mengatur semua aspek kehidupan yang ada di dunia maupun kehidupan nantinya di akhirat. Termasuk dalam mentaati para pemimpinnya. Aturan-aturan yang sesuai dengan syariat Islam

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI, Al-‘Aliyy Al-Qur’anul Karim dan terjemahnya.
Cribbin James.J, Kerpemimpinan Strategi Mengefektifkan organisasi, PT. Pustaka Binaman, Jakarta : 1985.
Soekanto Soerjono, Beberapa Teori Sosiologi tentang Struktur Masyarakat. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta : 1993
Casson Herbert N, Bagaimana Seharusnya Jadi Pemimpin. PT. Al-Ma’arif. Bandung :1983
As-Salus Ali, Imamah dan Khilafah dalam Tinjauan Syar’i. Gema Insan Press. Jakarta : 1997.
Al-Umari Akram Dia. Masyarakat Mandinah pada Masa Rasulullah. Media Dakwah. Jakarta : 1994
Abdullah Taufik, Agama Etos Kerja dan Perkembangan Ekonomi. LP3ES. Jakarta : 1979
Rauf Maswadi, Konsensus dan Konflik Politik; Sebuah Penjajagan Teoritis. Direktorak Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta : 2001
Syari’ati Ali, Membangun Masa Depan Islam. Mizan. Bandung : 1994
Nasution Harun, Pembaharuan Dalam Islam. Bulan Bintang. Jakarta : 1975

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.