Hud-hud, si burung kecil yang menjadi salah satu bala tentara Nabi sulaiman berinisiatif terbang ke negeri Saba, tanpa perintah Sulaiman. Selaku pemimpin, sulaiman tentu gusar atas kepergian Hud-Hud yang tidak diketahuinya. Ia bahkan mengancam akan memberi hukuman hukuman keras atas Hud-Hud karena sikapnya itu. Sulaiman kemudian berupaya menanyakan kemana gerangan Hud-Hud pergi.
Tak lama, Hud-Hud muncul. Sebagai atasan, Sulaiman melakukan mutaba’ah (pengecekan), kemana ia tidak nampak sejak tadi. Tapi Hud-Hud bukan tipe prajurit sembarangan, apalagi suka menyia-nyiakan amanah. Hud-Hud mungkin telah siap dengan segala alasan syar’i, alasan tandzimi (struktural) dan alasan minhaji (konsepsi). Secara syar’i, inisiatifnya untuk pergi meninggalkan Sulaiman sang komandan bukan untuk urusan maksiat. Secara struktural, ia mengamalkan sikap prajurit yang kreatif, mencari hal-hal yang bermanfaat bagi Sulaiman. Sedang secara minhaji, ia telah melakukan pengamatan tentang prilaku ratu Saba’ dan kaumnya yang bertentangan dengan misi aqidah Sulaiman.
Hud-hud memang prajurit yang cerdas. Ia sangat mengerti akan misinya menyebarkan dakwah tauhid kepada seluruh penduduk bumi. Bermula dari inisiatif Hud-Hud itu, di kemudian hari terjadi peristiwa besar. Ratu Saba tunduk dan mengikuti agama tauhid Sulaiman. Hud-Hud telah melakukan tugas dengan baik, serius dan keberaniannya menanggung resiko.
Tiga hal yang dapat dipetik dari sikap Hud-Hud. Pertama, seorang Muslim harus memiliki inisiatif dan kreatifitas dengan menimbang kemaslahatan (manfaat) yang ada. Tak ada yang harus merasa kecil, karena Hud-Hud pun seekor burung kecil. Selama tidak keluar dari koridor Islam. Seorang muslim di tetap tuntut melakukan inisiatif dan kreatifitas, tanpa harus menunggu komando.
Kedua, Seorang pemimpin, meski berwawasan luas, harus sadar bahwa tidak semua persoalan ia ketahui dengan baik. Sulaiman adalah seorang Nabi yang dikaruniai Alloh mampu memahami bahasa binatang dan jin, tapi toh ia tidak mengetahui keberadaan negeri Saba’ yang maish tenggelam dalam syirik kapada Alloh.
Ketiga, sepintas yang dilakukan Hud-Hud adalah pekerjaan sepele, hanya menyaksikan sekelompok kaum yang menyembah matahari. Tapi Hud-Hud memiliki sudut pandang yang tajam. Ia mampu memandang fenomena itu dari sisi yang lain. Hud-Hud menyampaikan informasi yang diperolehnya dengan baik, argumantatif, dan meyakinkan kepada Nabi Sulaiman hingga akhirnya menyebabkan Ratu Saba’ beriman.
Begitulah seharusnya seorang muslim. Boleh jadi, orang memandang suatu peristiwa biasa-biasa saja. Namun seorang muslim harus mampu menilai fenomena itu dari sisi yang berbeda, yang mampu memberinya sebuah ibroh (pelajaran) yang sangat bermanfaat bagi dirinya dan juga orang lain.
riyanthea_devi@yahoo.com
Komentar Terakhir